Sabtu, 29 Januari 2022

 ARTIKEL FORUM BERBAGI

JUDUL   : MEWUJUDKAN BUDAYA POSITIF DI KELAS MELALUI TAHAP KESEPAKATAN KELAS MODUL 1.4 A.

MODUL                : 1.4.A.10

OLEH     : ETIK KRISTIYANTI.S.Pd

 

A.       LATAR BELAKANG

Budaya Positif adalah Keyakinan dan nilai yang disepakati bersama untuk dilaksanakan, menjadi kebiasaan bersama dalam jangka waktu yang lama. Di masa pandemi ini banyak siswa yang kehilangan waktu belajarnya di kelas sehingga banyak budaya atau kebiasaan positif di kelas maupun di sekolah yang ditinggalkanatau terlupakan. Melihat dari alasan tersebut maka budaya positif perlu ditumbuhkan lagi di sekolah. Proses pembelajaran akan berlangsung baik dan memuaskan jika budaya positif di kelas diterapkan, sekaligus mendidik siswa untuk berperilaku positif di luar kelas maupun di lingkungan keluarga dan masyarakat. Karena sekolah merupakan tempat pembentukan karakter siswa. Sesuai makna Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara “Adapun maksud pendidikan yaitu: menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya” (dikutip dari buku Ki Hajar Dewantara seri 1 pendidikan halaman 20)

B.      TUJUAN AKSI NYATA

Adapun tujuan dari aksi nyata adalah :

1. Mewujudkan budaya positif di kelas agar dalam kegiatan pembelajaran di kelas berjalan tertib 

2. Agar  menimbulkan dan meningkatkan semangat belajar siswa

3. Melatih tanggung jawab dan kedisiplinan siswa agar dimanapun berada, siswa senantiasa melakukan budaya positif

4. Agar menjadi nilai yang patut dicontoh oleh seluruh warga sekolah terutama adik kelas dalam hal melaksanakan budaya positif di kelas maupun di sekolah.

 

C.       DESKRIPSI AKSI NYATA

CGP melihat dan mengamati budaya positif di sekolah perlahan hilang seiring dengan diterapkannya pembelajaran secara daring di masa Pandemi. Sebelum masa Pandemi, setiap siswa datang ke sekolah mereka akan berduyun duyun mencium tangan bapak ibu guru dengan rasa hormat. Kemudian ketika di dalam kelas, tidak akan ada siswa yang membawa HP, mereka akan duduk tenang di belakang meja menunggu bapak/ibu guru membuka pembelajaran. Namun setelah pandemi ada di Indonesia, setelah ada pembelajaran Daring kebiasaan – kebiasaan itu mulai berangsur hilang.  Untuk itu tergeraklah hati CGP untuk menumbuhkan kembali budaya positif di kelas. Sebuah budaya yang mereka ciptakan sendiri dan yang mereka lakukan secara Bersama sama. Adapun Langkah langkahnya adalah sebagai berikut :

1. Berkoordinasi dengan kepala sekolah terkait ide aksi nyata yang akan di lakukan di sekolah, dengan meminta ijin, saran dan masukan kepala sekolah terkait aksi budaya positif di kelas

2. Berkoordinasi dengan semua guru terkait ide aksi nyata ini, agar diupayakan semua kelas melakukan budaya positif .

3. Berkoordinasi dengan siswa  di kelas terkait budaya positif di kelas maupun di sekolah

4. Guru menanyakan kepada siswa tentang tantangan, hambatan, keluhan di kelas maupun di sekolah

5. Guru menanyakan kepada siswa tentang hal apa saja yang diinginkan siswa di kelas barunya nanti, “Kelas Impianku”

6. Siswa mengutarakan budaya positif apa yang akan disepakati untuk dilakukan bersama dalam bentuk kertas tulisan

7. Kemudian kertas hasil pendapat tersebut dijadikan satu dibuat kata kunci dari setiap pendapat yang ada.

            8. Siswa membuat Poster Kesepakatan Kelas

9. Poster yang telah dibuat tersebut ditanda tangani oleh seluruh siswa dan guru. Untuk kemudian ditempel di dinding kelas

 

D.      TOLAK UKUR KEBERHASILAN

1. Dukungan dan motivasi dari kepala Sekolah dan bapak ibu guru bagi siswa akan menjadi magnet tersendiri bagi siswa

2. Kesadaran diri akan perilaku positif di dalam pergaulan atau interaksi dengan teman dan bapak ibu guru

3. Kesepakatan kelas dibuat siswa sendiri maka akan menjadikan tanggung jawab tersendiri bagi siswa untuk melaksanankannya.

 

E.       HASIL AKSI NYATA DAN DOKUMENTASI

1.       Koordinasi dengan Kepala sekolah


2.       Koordinasi dengan teman guru



3.       Proses pembuatan kelas impian, Cara mencapai Kelas impian dan Kesepakatan Kelas


                                                                                           

 

 

 

 

 


 


                                                      

 

               

                                                                                      

                                             
                                                  

                                             
                           

4.       Penandatanganan Poster Kesepakatan Kelas


 












               

Kamis, 25 November 2021

FOTO KENANGAN

 FOTO KENANGAN




PROFIL PELAJAR PANCASILA

 Tujuan Profil Pelajar Pancasila

1. Berakhlak Mulia 

      Pelajar Pancasila mengerti apa itu moralitas. Menurut Nadiem, Pelajar Pancasila mengerti apa itu keadilan sosial, spiritualitas, punya rasa cinta kepada agama, manusia, dan cinta kepada alam

2. Kreativitas 

Menurut Nadiem, Pelajar Pancasila punya kemampuan untuk bukan hanya memecahkan masalah, tetapi untuk menciptakan hal-hal secara pro aktif dan independen untuk menemukan cara-cara lain dan berbeda untuk bisa berinovasi dalam sehari-harinya.



3. Gotong royong 

        Pelajar Pancasila mengetahui cara gotong royong. Menurut Nadiem, Pelajar Pancasila harus tahu cara berkolaborasi dan bekerjasama sesama muridnya. "Dan pada saat di laut terbuka dengan sesama manusia. Karena tidak akan ada pekerjaan, dan aktivitas yang tidak membutuhkan gotong royong, tak membutuhkan kolaborasi apalagi di era industri 4.0," tambah Nadiem. Kolaborasi, lanjutnya, jauh menjadi lebih penting. Saat ini, kolaborasi sudah menjadi hal yang penting di era Industri 4.0. "Bayangkan (pentingnya kolaborasi) di masa teknologi yang semakin cepat berubah," katanya.

4. Kebhinekaan global 

        Nadiem menyebutkan kebhinekaan global adalah perasaan menghormati keberagaman. Kebhinekaan global adalah toleransi terhadap perbedaan. "Ini juga artinya dia bisa menerima perbedaan, tanpa rasa judgement, tanpa menghakimi, dan tidak merasa dirinya atau kelompoknya dia lebih baik dari kelompok lain. itu artinya kebhinekaan global. Dan bukan di level Indonesia, sebagai negara mereka tapi juga di tingkat dunia," ujar Nadiem.

5. Bernalar kritis 

            Bernalar kritis merupakan asesmen kompetensi yang akan diuji oleh Kemendikbud dalam Kebijakan Merdeka Belajar. Adapun bernalar kritis seperti kemampuan beranalisa dan kemampuan memecahkan masalah-masalah yang nyata. "Kemampuan untuk berpikir secara kritis dan menimbang berbagai solusi untuk suatu permasalahan," kata Nadiem.

Kemandirian

         Pelajar Pancasila harus memiliki kemandirian. Penilaian terkait kemandirian bisa diukur dengan indikator motivasi. "Apakah mereka terdorong dengan motivasi dalam hatinya atau harus terus didorong dari luar. Kemandirian itu bertumpu dari namanya growth mindset, yaitu suatu filsafat bahwa saya bisa menjadi lebih baik, kalau saya terus berusaha sehingga saya ingin terus mencari informasi lebih banyak, saya harus bekerja keras karena saya bisa menjadi lebih baik," tambah Nadiem.


UJI COBA BLOG

 AKSI NYATA 1.2.A.10 NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

    






AKSI NYATA MODUL 3.3 PROGRAM PENGELOLAAN YANG BERDAMPAK PADA MURID

  Aksi Nyata Modul 3.3.a.10 Program Pengelolaan Yang Berdampak Pada Murid PROGRAM “SABES” SEKOLAH ASRI BEBAS SAMPAH   DI SD NEGERI 08 ...