Minggu, 03 Juli 2022

AKSI NYATA MODUL 3.3 PROGRAM PENGELOLAAN YANG BERDAMPAK PADA MURID

 

Aksi Nyata Modul 3.3.a.10

Program Pengelolaan Yang Berdampak Pada Murid

PROGRAM “SABES” SEKOLAH ASRI BEBAS SAMPAH 

DI SD NEGERI 08 MARTAPURA




Oleh :

ETIK KRISTIYANTI, S.Pd

CGP ANGKATAN 4 KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR 

Tahapan terakhir dari rangkaian modul Program Guru Penggerak memasuki masa paripurna, pandangan baru, pengetahuan, ketrampilan, dan sikap-sikap yang telah dikembangkan dalam proses belajar selama ini baik melalui LMS, pendampingan individu, lokakarya dan kolaborasi teman PGP telah memberikan bekal bagi CGP memulai aksi perubahan dengan program atau kegiatan sekolah yang berdampak pada murid.

Perubahan tidaklah harus yang bombastis melainkan adanya perubahan yang positif sekecil apapun melalui langkah-langkah kecil yang kita dapat lakukan dalam lingkungan sekolah secara langsung yang berdampak dan terasa oleh seluruh komunitas sekolah berimbas mampu memberikan inspirasi bagi Ekosistem sekolah untuk tergerak, bergerak bersama-sama saling berkolaborasi, gotong-royong yang solid sesuai kemampuan pengoptimalan aset yang dimiliki bersama murid dengan suara,pilihan,dan kepemilikan murid pengelolaan program sekolah akan berjalan dengan baik dan mempunyai dampak yang luas bagi murid untuk mencapai kebahagiaan ,kesejahteraan ( Well-Being ) murid yang optimal sebuah keadaan emosional yang berkelanjutan yang dicirikan dengan suasana hati dan sikap yang positif, hubungan  positif dengan murid, guru, ketangguhan pengoptimalan kekuatan diri, serta tingkat kepuasan yang tinggi terhadap pengalaman belajar mereka disekolah ( Nobie et al.2008 ).

Hal ini selaras dengan  pandangan Ki HajarDewantara : Maksud  pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat.    

FACT (PERISTIWA)

1.                             Latar Belakang Masalah

              Progran “SABES” Sekolah Asri Bebas Sampah sebuah program yang timbul akibat dari  isu masalah sampah yang sangat penting, Kesalahan dalam pengelolaan sampah dapat menimbulkan banyak musibah mulai dari banjir sampai dengan pencemaran lingkungan. Sampah yang dibuang secara sembarangan juga menimbulkan pemandangan yang tidak nyaman. Mengelola sampah membutuhkan kerjasama yang baik di semua lapisan masyrakat. Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki kewajiban untuk mulai menanamkan kesadaran akan pentingnya lingkungan kepada murid-muridnya dengan cara 4R yaitu Reduce, Reuse, Replace dan Recycle. Adapun tujuan dari program ini adalah membentuk karakter cinta lingkungan dan menumbuhkan sikap tanggung jawab terhadap kebersihan dan keasrian di sekitar sekolah dengan mengaplikasikan 4R dengan melibatkan asset manusia, fisik, finansial dan lingkungan.

2.                            Kegiatan Aksi Nyata

Peran lingkungan yang ada di SD Negeri 08 Martapura sangatlab bersar. Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis mencoba membuat program “SABES” Sekolah Asri Bebas Sampah. Dalam kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap mandiri, kolaboratif dan peduli terhadap lingkungan sebagai sumber belajar dalam diri murid, melatih jiwa kepemimpinan dan kepedulian sesama murid serta bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar serta meningkatkan peran serta orang tua dan masyarakat sekitar sekolah.

Progran SABES ini dilakukan dengan alur BAGJA Sebagai Berikut:

1)    Buat Pertanyaan

Guru menanyakan kepada siswa apakah mengaplikasikan 4R dapat membentuk karakter cinta lingkungan dan tanggungjawab terhadap kebersihan lingkungan.

2)    Ambil Pelajaran

Seluruh komponen sekolah berkolaborasi untuk membentuk karakter cinta lingkungan bengan mengaplikasikan 4R disekolah agar karakter tanggungjawab warga sekolah terhadap kebersihan lingkungan.

3)    Gali Mimpi

Sekolah yang bersih dan asri terwujud karena kesadaran murid  yang mencintai lingkungan, kuantitatif sampah berkurang salah satu wujud dari murid mampu mengaplikasikan 4R dalam mengelola sampah. Terwujudnya karakter cinta lingkungan dan tanggungjawab terhadap lingkungan yang bersih dan asri.

4)    Jabarkan Rencana

Berkolaborasi dengan Kepala sekolah, rekan guru dan warga sekitar sekolah

5)    Atur Eksekusi

- Membuat tim dan penanggung jawab Program

- Melakukan menejemen resiko

- Melakukan evaluasi dan monitoring

- Membuat laporan

                    Hasil dari aksi nyata

Program “SABES” ini dilakukan di SD Negeri 08  Martapura dalam jangka waktu 4 minggu, Kegiatan ini diawali dengan koordinasi dan penyampaian program kepada Kepala Sekolah dan rekan guru. Kegiatan selanjutnya yaitu mengajak murid untuk berdiskusi tentang program yang akan dilaksanakan dengan mendengarkan suara murid dan pilihan murid untuk melaksanakan program tersebut agar kepemilikan murid tercipta.

Suara murid dilaksanakan dengan member kesempatan kepada murid untuk menyuarakan kegiatan apa yang akan dilakukan dalam menyukseskan program tersebut, sedangkan pilihan murud dibuktikan dengan murid diberikesempatan untuk memilih rekan untuk menjadi teman dalam bekerja nanti, sedangkan kepemilikan murid dengan mencantumkan suara murid untuk melaksanakan dan menyukseskan program tersebut.

Kegiatan ini dilakukan pertama kali yaitu dikelas 5 dikarenakan kelas 5 adalah kelas yang saya ampu, kemudian dilanjutkan di kelas kelas lain sehingga seluruh warga sekolah  dan murid dari kelas 1 s.d 6 melaksanakan program tersebut.

B.  FEELING (PERASAAN)

Setelah urid-murid memutuskan apa yang ingin mereka lakukan, saya kemudian memantau perkembangan program ini. Saya terkejut karena ternyata beberapa murid membentuk kelompok dan melakukan pembuatan jadwal, dan lokasi piket secara berkelompok untuk menjaga kebersihan lingkungan kelas maupun sekolah.

 Ada rasa haru, bangga, dan bahagia saat murid-murid melakukan kegiatan ini tanpa saya perintahkan. Tindakan murni inisiatif mereka ini membuat saya menyadari bahwa jika murid diberikan kepercayaan, didengar, dan diperlakukan bukan sebagai anak-anak, mereka dapat melakukan sesuatu yang luar biasa. Bagi saya, tindakan mereka ini mempunyai arti yang luar biasa sebab ini membuktikan bahwa apa yang saya pelajari di modul ini ternyata dapat dipraktikan dalam keseharian.

 

C.   FINDINGS (PEMBELAJARAN)

Aksi nyata di modul 3 memberikan banyak pembelajaran bagi saya. Antara lain:

a.     Dengarkanlah “suara” murid sebab mereka adalah pribadi yang sama dengan kita. Yang membedakan kami hanyalah usia dan tingkat pendidikan dan kedua hal tersebut bukanlah alasan untuk saya mengabaikan “suara” mereka. Sebagai guru saya tidak boleh merasa lebih hebat dari murid-murid saya sebab dalam pendidikan sesungguhnya bukan hanya murid yang belajar melalui guru, guru pun perlu belajar dari murid.

b.     Berikan kebebasan “memilih” pada murid. Memilih merupakan kodrat alami manusia. Selama kita hidup kita selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan. Saat murid belajar memilih, tugas saya sebagai guru bukanlah seperti hakim yang memutuskan benar atau salahnya pilihan mereka. Saya perlu bertindak sebagai seorang coach yang memberikan pertanyaan pemantik agar mereka dapat memilih yang terbaik dari beragam pilihan yang baik. Saat pilihan murid bukan pilihan saya, maka saya perlu belajar untuk tidak langsung memberikan penilaian negatif sebab hal tersebut dapat “membunuh” rasa keingintahuan mereka. Izinkan mereka memilih dan tetap ingatkan bahwa setiap pilihan membawa konsekuensi.

c.      Murid yang “didengar” dan diberi kebebasan dalam memilih akan cenderung bersemangat dalam mengerjakan sesuatu karena mereka merasa memiliki program tersebut. Hal ini tentu akan menggairahkan, bukan hanya murid namun juga guru sebagai seorang pendidik sebab kita tidak perlu bersusah-susah untuk meminta murid melakukan sesuatu. Murid akan bergerak sebab mereka mengetahui bahwa ini adalah keinginan mereka.

 

D.   FUTURE (PENERAPAN KEDEPAN)

Saya menyadari program “SABES” masih perlu banyak perbaikan, hal yang saya akan lakukan sebagai perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang yaitu saya akan lebih giat lagi untuk mengembangkan program Sekolah Asri Bebas Sampah dengan berkolaborasi dengan semoa stackholder yang ada di sekolah dan tidal lupa dengan subyek kita yaitu murid. Saya juga akan melibatkan kepala sekolah dan juga teman-teman guru untuk memikirkan bersama tindakan yang dapat dilakukan untuk menjadikan program ini menjadi lebih baik.

 

E.   DOKUMENTASI

1. Koordinasi program “SABES”



 

 

2. Sosialisasi Program dengan Wali murid

 

 


 


3. Kegiatan Siswa dalam aksi Nyata







 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


                                                

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 12 Juni 2022

REFLEKSI TERBIMBING MODUL 3,3 PENGELOLAAN PRIGRAM BERDAMPAK PADA MURID

 

REFLEKSI TERBIMBING MODUL 3.3.A.6

PENGELOLAAN PROGRAM BERDAMPAK PADA MURID

OLEH: ETIK KRISTIYANTI, S.Pd

CGP ANGKATAN 4 KABUPATEN OKU TIMUR

 

Modul ini memberikan pemahaman kepada saya mengenai kegiatan di sekolah yang memiliki dampak positif bagi murid. Setelah melewati kegiatan mulai dari diri, eksplorasi konsep, dan ruang kolaborasi, kini tibalah saatnya bagi saya untuk melakukan refleksi dari materi yang telah dipelajari. Berikut ini adalah pertanyaan panduan untuk melakukan refleksi terbimbing:

1.      Apa yang menarik bagi Anda setelah mempelajari pengelolaan program yang berdampak pada murid?

Hal yang menarik bagi saya adalah membangun student agency pada kegiatan yang diprogramkan. Menariknya saat murid memiliki agency, maka murid juga sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran. 

Modul ini menampilkan beberapa situasi yang memberikan inspirasi bagi saya mengenai kegiatan yang mengandung kepemimpinan murid. Gambaran situasi ini memberikan inspirasi bagi saya untuk menciptakan kepemimpinan murid dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler ataupun ekstrakurikuler. Karakteristik lingkungan yang dapat menumbuhkembangkan kepemimpinan murid.

2.      Apa yang mengejutkan yang Anda temukan dalam proses pembelajaran tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid? 

Awalnya saya mengira bahwa program yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid hanya berupa kegiatan ekstrakurikuler. Setelah mempelajari modul ini, kepemimpinan murid ternyata bisa dibangun dalam kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler. 

Guru hanya perlu membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, membuat inovasi dalam kegiatan, membangun agency murid dengan menciptakan lingkungan belajar yang menunjang. Saya juga menemukan bahwa ada miskonsepsi mengenai kepemimpinan murid yang selama ini difahami. Diantaranya yaitu:

-           Kepemimpinan murid merupakan sesuatu yang dapat kita dorong, bukan sesuatu yang bisa kita berikan atau ambil dari murid.

-          Murid mengambil kepemimpinan dan tanggung jawab atas proses pembelajaran mereka sendiri. Kepemimpinan murid bukan berarti bebas sepenuhnya bagi murid, murid tetap membutuhkan bimbingan guru.

-          Murid memiliki suara dan pilihan atas apa yang akan dipelajari, bagaimana mereka belajar dan mengorganisir pembelajaran mereka. Kepemimpinan murid bukan berarti tidak ada akuntabilitas murid. Murid tetap harus menunjukan penguasaan pengetahuan, konsep dan keterampilan. 

-          Murid dapat memilih arah dan cara mencapai tujuan pembelajaran sendiri. Kepemimpinan murid bukan berarti mengganti peran guru. Murid justru menumbuhkan umpan balik, negosiasi, beradu argumen, tuntunan, coaching dari gurunya sepanjang proses pembelajaran

3.      Apa yang berubah yang akan Anda lakukan setelah memahami atau mempelajari materi ini?

Cara pandang saya terhadap agency atau kepemimpinan murid. Agency bisa ditumbuhkan melalui kegiatan sederhana yang memberikan keleluasaan bagi murid untuk memberikan suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership).  Dan Perlu menciptakan lingkungan yang dapat menumbuhkembangkan kepemimpinan murid. Menjalin kolaborasi dengan banyak pihak untuk membangun lingkungan yang dapat menumbuhkembangkan kepemimpinan murid.

4.      Apa yang menantang  bagi Anda untuk memahami apa yang disampaikan dalam modul ini?

Menggali impian dengan menggunakan BAGJA untuk membuat program yang berdampak pada murid. Buat pertanyaan kritis yang bisa menggali impian untuk membuat program yang dapat menumbuhkembangkan kepemimpinan murid. 

Tantangan selanjutnya adalah membangun kolaborasi dengan banyak pihak. Membangun relasi membutuhkan usaha yang cukup besar untuk meyakinkan orang lain mengenai program yang telah direncanakan. Tidak semua orang memiliki pendapat yang sama mengenai pembelajaran atau pun program yang berpihak pada murid. Perlu memberikan pemahaman mengenai kepemimpinan murid, lingkungan positif yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid untuk menyamakan persepsi. 

5.      Sumber-sumber dukungan yang saya miliki untuk membantu saya menyusun program yang berdampak pada murid.

Sumber yang dimiliki untuk menyusun program yang berdampak pada murid yaitu tujuh modal utama sumber daya yang dimiliki sekolah. Ketujuh modal utama tersebut bisa digunakan secara maksimal untuk mendukung kegiatan yang bermanfaat bagi sekolah. 

 

Kamis, 09 Juni 2022

AKSI NYATA 3.2 Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber daya

 

Aksi Nyata Modul 3.2

Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya di SD Negeri 08 Martapura 

Mengembangkan Ekosistem Sekolah yang Bersih dan Nyaman Agar Terwujud Sekolah yang Menyenangkan dan Berpihak  Pada Murid

Oleh Etik Kristiyanti, S.Pd

CGP Angkatan 4 Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur

A.     Latar Belakang

Aset atau sumber daya hal baku dalam menunjang kemajuan sekolah,untuk itu saya mencoba bersama komunitas sekolah memetakan dan mengelola aset yang ada  menggunakan pendekatan Inkuiri apresiatif model BAGJA,dengan model ini akan memaksimalkan manfaat aset bagi ekosistem sekolah dan mendukung pembelajaran dikelas.

Lingkungan sekolah adalah ruang yang sangat berharga bagi penghuninya khususnya murid dan guru,wellbeing  murid akan terbentuk manakala proses pembelajaran murid sangat menyenangkan didukung  lingkungan sekolah yang bersih dan rapi.Saya bersama komunitas sekolah berupaya melakukan inisiasi perubahan berpedoman pada prinsip murid sebagai agen perubahan,sehingga siswa dengan kesadaran sendri tergerak dan bergerak dengan bimbingan guru menjadi agen perubahan bagi lingkungan sekolah yang bisa murid merasa nyaman,mewujudkan impian murid belajar dengan bahagia.

B.      Tujuan

Pemetaan dan pengelolaan aset atau sumber daya dilakukan untuk meningkatkan kemajuan sekolah baik kuantitas maupum kwalitas, meningkatkan kebahagiaan, kesenangan, kenyamanan murid "Well-being", mewujudkan kepemimpinan murid,sekolah yang berpihak kepada murid menuju profil pelajar Pancasila, sehingga sekolah mempunyai harapan peningkatan kualitas pendidikan secara umum. 

C.      Tolak Ukur

Tolak ukur inisiasi perubahan di sekolah saya adalah tercapainya suasana sekolah yang bersih,rapi dan nyaman,tercapainya kualitas pembelajaran yang lebih berpihak kepada murid sesuai profil pelajar Pancasila

D.     Dukungan Yang dibutuhkan

Aksi nyata ini diperlukan adanya kolaborasi dan gotong royong semua aset sekolah khususnya aset manusia,Kepala sekolah,teman sejawat,murid,tenaga kepegawaian,komite sekolah,orang tua murid,dukungan sarana prasarana,aset finansial dan semua komunitas terlibat baik aktif maupun pasif.

E.      Linimasa Tindakan Yang akan Dilakukan

Dalam melaksanakan aksi nyata ini saya menggunakan prosedur BAGJA antara lain :

1.      Buat pertayaan : Meminta murid untuk menggali cita-cita dan harapan tentang sekolah impian kita dengan inventarisi potensi dan kekuatan yang dimiliki komunitas sekolah.Contohnya : Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat sekolah bersih dan rapi?

Hasil tahapan : Bagaimana memberdayakan sampah yang ada dilingkungan sekolah bisa berdaya guna ?.Bagaimana cara meningkatkan kepemimpinan murid dalam hal pengelolaan sampah dikelas maupun lingkungan sekolah ?

2.      Ambil Pelajaran : Mengindentifikasikan hal-hal yang diinginkan murid,contohnya,pengalaman menyenangkan yang pernah  murid alami dengan sampah.

Hasil tahapan : Guru dan murid menyusun kesepakatan kelas masalah kebersihan kelas,halaman,dan pengumpulan sampah secara sadar,bertanggung jawab dengan bergotong royong dengan sesama warga sekolah

3.      Gali mimpi : mengali pertanyaan ke siswa untuk mengetahui pendapat,aspirasi murid,perasaan tentang sekolah impian yang bersih dan rapi bebas dari sampah.Contohnya : Seperti apa sekolah yang menyenangkan ? Bagaimana perasaan lingkungan kelas yang penuh dengan sampah ?

Hasil tahapan : Murid dan wali kelas memilah sampah untuk diproses yang bisa untuk di daur ulang,dibuang,maupun yang bisa dijual dan uang nya bisa untuk kas kelas.Murid sudah merealisasi impian dengan penambahan uang kas dari menjual kertas dan plastik ke pengepul sampah sekitar sekolah.Sampah daur ulang dapat digunakan untuk kompos tanaman.

4.      Jabarkan Rencana : membuat capaian yang nyata atau relistis misalkan langkah-langkah untuk menampung sampah,memilah sampah,menjual sampah,mendaur ulang sampah  supaya mendapatkan nilai tambah bagi murid di setiap kelas.

Hasil Tahapan : Murid berkolaboasi dengan warga sekolah telah meksanakan rencana aksi dari piket kelas maupun guru mengumpulkan sampah setiap pagi,sampah yang masih layak untuk diolah dikumpulkan di bank sampah sekolah tentu dengan pengurus pokja bank sampah dan dipilah sampah pastik,kertas,maupun logam.untuk sampah daun masuk ke pokja kompos dan proses pengolahan kompos.Sampah kertas seperti karton,koran bekas,dan plastik yang tidak didaur ulang masuk ke pengepul sampah dan mendapatkan uang sesuai dengan kelas yang menyetorkan sampah.

5.      Atur Eksekusi atau Deliver : Menyusun tim kerja,contoh : setiap kelas terdapat  kader sampah,kader lingkungan,pokja lingkungan

Hasil tahapan : Telah menentukan tim inti pokja sampah,adanya koordinasi penanggung jawab pelaksana program,adanya yang memonitor,mengevaluasi jalannya program pengolahan sampah supaya saling bekerja sama,berkolaborasi dalam program pengolahan sampah ini.

FEELING ATAU PERASAAN 

Perasaan yang dirasakan saat melaksanakan aksi nyata ini antara lain menyenangkan bisa menumbuhkembangkan kepemimpinan murid, mengelola sumber daya atau aset yang dimiliki sekolah,melatih murid melakukan perubahan-perubahan sesuai impian dan harapan murid tentang sekolah yang bersih dari sampah dan menciptakan sekolah yang menyenangkan.

FINDING ATAU PEMBELAJARAN

Berpikir berbasis aset atau asset based thinking memberikan pembelajaran baik guru maupun murid sebuah perubahan dari sampah yang tidak berguna menjadi barang yang berdaya guna.Guru sejatinya menuntun,memfasilitasi murid agar mendapatkan hal yang bermanfaat untuk bekal dalam hidup bermasyarakat.

 FUTURE ATAU PENERAPAN KE DEPAN

 Sebagai pemimpin pembelajaran haruslah bisa memetakan 7 aset atau sumber daya yang ada di sekolah dan mengelola aset atau sumber daya yang ada untuk kepentingan pembelajaran yang berdampak pada murid.Aksi nyata pengelolaan aset sekolah bisa saya terapkan secara konsisten dalam membuat  sebuah perubahan dari sekolah yang penuh sampah dan kotor menjadi sekolahyang bersih,rapi dan menyenagkan bagian dari budaya positif warga sekolah.Hal yang tidak kalah penting adalah mengubah pola pikir khususnya tenaga pendidik dari pemikiran lama yang cenderung negatif,berbasis kekurangan,dan kelemahan ke arah pola pikir positif yang berbasis pada kekuatan yang akan membuka harapan dan impian  bagi murid kita.

 

DOKUMENTASI AKSINYATA

 

















Sabtu, 14 Mei 2022

AKSI NYATA MODUL 3.1.A.10 PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

 

AKSI  NYATA MODUL 3.1.A.10

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

OLEH ETIK KRISTIYANTI

CGP ANGAKTAN 4 KABUPATEN OKU TIMUR

 

Portofolio aksi nyata yang disusun menggunakan refleksi 4P Yaitu Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran dan Perubahan.

 

PERISTIWA

                Pengambilan keputusan mejadi salah satu bagian tak terpisahkan dari keberadaan SD Negeri 08 Martapura. Bukan saja di lakukan olek Kepala Sekolah, melainkan juga warga sekolah lainnya. Termasuk salah satunya guru. Kenyataan menunjukkan bahwa  masih ada guru yang belum memahami perbedaan antara bujukan moral dan dilemma etika. Selain itu, masih banyak juga yang belum memahami tentang lankah-langkah yang tepat untuk mengambil keputusan. Tidak jarang  keputusan  yang diambil kurang tepat. Oleh karena itu, memerlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman warga sekolah terkait pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

                Berangkat dari kondisi tersebut, saya berusaha untuk meyusun langkah-langkah strategis.

Lankah-langkah tersebut tertuang dalam rancangan tindakan aksi nyata.

 

PERTAMA: KOORDINASI DENGAN KEPALA SEKOLAH

                Saya melakukan aksi nyata ini sebagai bentuk tugas dan tanggungjawab bawahan kepada atasan. Selain itu juga untuk medapatkan dukungan dalam pelaksanaannya.Hasil dari aksi nyata tersebut adalah adanya dukungan dari Kepala Sekolah untuk melaksanakan serangkaian aksi nyata pengambilan keputusan.



KEDUA: MENYUSUN RENCANA AKSI

                Bagaimanapun juga menyusun rencana yang baik adalah langkah awal yang baik dalam pelaksanaan kegiatan. Hal ini penting untuk mejamin kegiatan berjalan dengan baik. Hasil aksi nyata ini adalah tersusunnya rencana aksi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.



KETIGA : MELAKUKAN ANALISIS KASUS TERKINI DI SEKOLAH

                Langkah ini untuk menguatkan pemahaman tentang pengambilan keputusan . Hali ini mengingat pemahaman terkait masih membutuhkan penguatan secara langsung di sekolah. Hasil dari aksi nyata ini adalah tersusunnya analisis kasus yang terjadi di sekolah



KEEMPAT:  MENYUSUSN MATERI DISIMILASI TENTANG  PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

                Ini akan saya lakukan untuk menyiapkan bahan desimilasi. Materi yang saya buat merupakan materi modul 3.1. tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Saya akan melakukan beberapa perubahan terutama pada studi kasus dalam materi akan saya sesuaikan dengan kasus nyata yang ada di sekolah. Tujuannya adalah agar materi lebih dekat dan memberikan kemudahan kepada  teman sejawat untuk menjalani proses belajarnya. Hasil aksi ini adalah tersusunya materi desimilasi terkait pengambilan keputuasan sebagai pemimpin pembelajaran.

KELIMA: MELAKUKAN TRASFER PENGETAHUAN

                Melakukan transfer pengetahuan disini saya melakukannya dengan tatap muka,  yaitu dengan cara melakukan pertemuan dengan komunitas yang ada di sekolah yaitu untuk membahas materi tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Hasil aksi nyata ini adalah meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dan menerapkannya dalam pembelajaran di kelas maupun di sekolah.


 

KEENAM: MELAKUKAN EVALUASI

                Saya melakukan ini pada akhir kegiatan. Kegiatan ini berupa pertemuan dengan menggunakan lembar evaluasi. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana penerapan pengambilan keputusan  oleh teman sejawat, termasuk didalamnya kendala yang ada.

Hasil kegiatan ini yaitu terpetanya keberhasilan dan kendala yang ada. Hal ini juga sekaligus untuk mengukur efektivitas keberhasilan pengambilan keputusan.


 



PERASAAN

Setelah melakukan aksi nyata modul 3.1 tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran awalnya merasa akan mengalami kesulitan terutama dalam membuka  komunikasi awal terkait pelaksanaan kegiatan. Namun berkat kolaborasi aksi nyata pun bisa terlaksana dengan baik. Saat pelaksanaan lebih lega dan tenang. Hai ini karena sesuai rencana yaitu kolaborasi atau kerja sama dengan teman sejawat. Demikian halnya setelah aksi nyata dilaksanakan atau selesai perasaan bahagia dan sekaligus tertantang menjaga dan meningkatkan pemahaman diri dan teman sejawat terkait pengambilan keputusan.


PEMBELAJARAN

Banya pembelajaran baru dalam perubahan yang telah dilakukan. Pembelajaran tersebut terkait dengan diri sendiri maupun orang lain, salah satu pembelajaran baik bagi diri sendiri yaitu bahwa awal yang baik bagi sebuah perubahan adalah kolaborasi. Dari kolaborasi ada pembelajaran tentang penyamaan persepsi dalam menyusun langkah-langkah perubahan. Pembelajaran baik lainnya yaitu terkait kendala dari rencana yang telah disusun . Kendala ada yang membuat rencana berubah, oleh karena itu penting adanya persiapan strategi alternative dalam implementasi aksi nyata pembelajarab dari orang lain terutama terkait dengan pentingnya dukungan dari teman sejawat.

 

PERUBAHAN

Perubahan nyata dari dalam diri yaitu adanya tekan menguatkan kolaborasi sebagai bentuk dukungan dari dan tehadapa rekan sejawat. Hal ini penting kaitannya dengan implementasi aksi perubahan kedepannya. Selain itu saya optimis untuk meningkatkan terutama terkait kompetensi diri dalam pengambilan keputusan. Hal ini akan berpengaruh nyata terhadap keputusan yang diambil kedepannya terkait peran sebagai pemimpin pembelajaran. Perubahan lainnya yaitu semakin meningkatnya komitmen diri untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik untuk sekolah.

 

Demikian portofolio aksi nyata modul 3.1 tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Harapan saya ada hal-hal kecil yang dilakukan dapat membawa perubahan yang lebih baik kedepannya.

 

 

AKSI NYATA MODUL 3.3 PROGRAM PENGELOLAAN YANG BERDAMPAK PADA MURID

  Aksi Nyata Modul 3.3.a.10 Program Pengelolaan Yang Berdampak Pada Murid PROGRAM “SABES” SEKOLAH ASRI BEBAS SAMPAH   DI SD NEGERI 08 ...