Minggu, 12 Juni 2022

REFLEKSI TERBIMBING MODUL 3,3 PENGELOLAAN PRIGRAM BERDAMPAK PADA MURID

 

REFLEKSI TERBIMBING MODUL 3.3.A.6

PENGELOLAAN PROGRAM BERDAMPAK PADA MURID

OLEH: ETIK KRISTIYANTI, S.Pd

CGP ANGKATAN 4 KABUPATEN OKU TIMUR

 

Modul ini memberikan pemahaman kepada saya mengenai kegiatan di sekolah yang memiliki dampak positif bagi murid. Setelah melewati kegiatan mulai dari diri, eksplorasi konsep, dan ruang kolaborasi, kini tibalah saatnya bagi saya untuk melakukan refleksi dari materi yang telah dipelajari. Berikut ini adalah pertanyaan panduan untuk melakukan refleksi terbimbing:

1.      Apa yang menarik bagi Anda setelah mempelajari pengelolaan program yang berdampak pada murid?

Hal yang menarik bagi saya adalah membangun student agency pada kegiatan yang diprogramkan. Menariknya saat murid memiliki agency, maka murid juga sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran. 

Modul ini menampilkan beberapa situasi yang memberikan inspirasi bagi saya mengenai kegiatan yang mengandung kepemimpinan murid. Gambaran situasi ini memberikan inspirasi bagi saya untuk menciptakan kepemimpinan murid dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler ataupun ekstrakurikuler. Karakteristik lingkungan yang dapat menumbuhkembangkan kepemimpinan murid.

2.      Apa yang mengejutkan yang Anda temukan dalam proses pembelajaran tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid? 

Awalnya saya mengira bahwa program yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid hanya berupa kegiatan ekstrakurikuler. Setelah mempelajari modul ini, kepemimpinan murid ternyata bisa dibangun dalam kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler. 

Guru hanya perlu membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, membuat inovasi dalam kegiatan, membangun agency murid dengan menciptakan lingkungan belajar yang menunjang. Saya juga menemukan bahwa ada miskonsepsi mengenai kepemimpinan murid yang selama ini difahami. Diantaranya yaitu:

-           Kepemimpinan murid merupakan sesuatu yang dapat kita dorong, bukan sesuatu yang bisa kita berikan atau ambil dari murid.

-          Murid mengambil kepemimpinan dan tanggung jawab atas proses pembelajaran mereka sendiri. Kepemimpinan murid bukan berarti bebas sepenuhnya bagi murid, murid tetap membutuhkan bimbingan guru.

-          Murid memiliki suara dan pilihan atas apa yang akan dipelajari, bagaimana mereka belajar dan mengorganisir pembelajaran mereka. Kepemimpinan murid bukan berarti tidak ada akuntabilitas murid. Murid tetap harus menunjukan penguasaan pengetahuan, konsep dan keterampilan. 

-          Murid dapat memilih arah dan cara mencapai tujuan pembelajaran sendiri. Kepemimpinan murid bukan berarti mengganti peran guru. Murid justru menumbuhkan umpan balik, negosiasi, beradu argumen, tuntunan, coaching dari gurunya sepanjang proses pembelajaran

3.      Apa yang berubah yang akan Anda lakukan setelah memahami atau mempelajari materi ini?

Cara pandang saya terhadap agency atau kepemimpinan murid. Agency bisa ditumbuhkan melalui kegiatan sederhana yang memberikan keleluasaan bagi murid untuk memberikan suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership).  Dan Perlu menciptakan lingkungan yang dapat menumbuhkembangkan kepemimpinan murid. Menjalin kolaborasi dengan banyak pihak untuk membangun lingkungan yang dapat menumbuhkembangkan kepemimpinan murid.

4.      Apa yang menantang  bagi Anda untuk memahami apa yang disampaikan dalam modul ini?

Menggali impian dengan menggunakan BAGJA untuk membuat program yang berdampak pada murid. Buat pertanyaan kritis yang bisa menggali impian untuk membuat program yang dapat menumbuhkembangkan kepemimpinan murid. 

Tantangan selanjutnya adalah membangun kolaborasi dengan banyak pihak. Membangun relasi membutuhkan usaha yang cukup besar untuk meyakinkan orang lain mengenai program yang telah direncanakan. Tidak semua orang memiliki pendapat yang sama mengenai pembelajaran atau pun program yang berpihak pada murid. Perlu memberikan pemahaman mengenai kepemimpinan murid, lingkungan positif yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid untuk menyamakan persepsi. 

5.      Sumber-sumber dukungan yang saya miliki untuk membantu saya menyusun program yang berdampak pada murid.

Sumber yang dimiliki untuk menyusun program yang berdampak pada murid yaitu tujuh modal utama sumber daya yang dimiliki sekolah. Ketujuh modal utama tersebut bisa digunakan secara maksimal untuk mendukung kegiatan yang bermanfaat bagi sekolah. 

 

Kamis, 09 Juni 2022

AKSI NYATA 3.2 Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber daya

 

Aksi Nyata Modul 3.2

Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya di SD Negeri 08 Martapura 

Mengembangkan Ekosistem Sekolah yang Bersih dan Nyaman Agar Terwujud Sekolah yang Menyenangkan dan Berpihak  Pada Murid

Oleh Etik Kristiyanti, S.Pd

CGP Angkatan 4 Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur

A.     Latar Belakang

Aset atau sumber daya hal baku dalam menunjang kemajuan sekolah,untuk itu saya mencoba bersama komunitas sekolah memetakan dan mengelola aset yang ada  menggunakan pendekatan Inkuiri apresiatif model BAGJA,dengan model ini akan memaksimalkan manfaat aset bagi ekosistem sekolah dan mendukung pembelajaran dikelas.

Lingkungan sekolah adalah ruang yang sangat berharga bagi penghuninya khususnya murid dan guru,wellbeing  murid akan terbentuk manakala proses pembelajaran murid sangat menyenangkan didukung  lingkungan sekolah yang bersih dan rapi.Saya bersama komunitas sekolah berupaya melakukan inisiasi perubahan berpedoman pada prinsip murid sebagai agen perubahan,sehingga siswa dengan kesadaran sendri tergerak dan bergerak dengan bimbingan guru menjadi agen perubahan bagi lingkungan sekolah yang bisa murid merasa nyaman,mewujudkan impian murid belajar dengan bahagia.

B.      Tujuan

Pemetaan dan pengelolaan aset atau sumber daya dilakukan untuk meningkatkan kemajuan sekolah baik kuantitas maupum kwalitas, meningkatkan kebahagiaan, kesenangan, kenyamanan murid "Well-being", mewujudkan kepemimpinan murid,sekolah yang berpihak kepada murid menuju profil pelajar Pancasila, sehingga sekolah mempunyai harapan peningkatan kualitas pendidikan secara umum. 

C.      Tolak Ukur

Tolak ukur inisiasi perubahan di sekolah saya adalah tercapainya suasana sekolah yang bersih,rapi dan nyaman,tercapainya kualitas pembelajaran yang lebih berpihak kepada murid sesuai profil pelajar Pancasila

D.     Dukungan Yang dibutuhkan

Aksi nyata ini diperlukan adanya kolaborasi dan gotong royong semua aset sekolah khususnya aset manusia,Kepala sekolah,teman sejawat,murid,tenaga kepegawaian,komite sekolah,orang tua murid,dukungan sarana prasarana,aset finansial dan semua komunitas terlibat baik aktif maupun pasif.

E.      Linimasa Tindakan Yang akan Dilakukan

Dalam melaksanakan aksi nyata ini saya menggunakan prosedur BAGJA antara lain :

1.      Buat pertayaan : Meminta murid untuk menggali cita-cita dan harapan tentang sekolah impian kita dengan inventarisi potensi dan kekuatan yang dimiliki komunitas sekolah.Contohnya : Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat sekolah bersih dan rapi?

Hasil tahapan : Bagaimana memberdayakan sampah yang ada dilingkungan sekolah bisa berdaya guna ?.Bagaimana cara meningkatkan kepemimpinan murid dalam hal pengelolaan sampah dikelas maupun lingkungan sekolah ?

2.      Ambil Pelajaran : Mengindentifikasikan hal-hal yang diinginkan murid,contohnya,pengalaman menyenangkan yang pernah  murid alami dengan sampah.

Hasil tahapan : Guru dan murid menyusun kesepakatan kelas masalah kebersihan kelas,halaman,dan pengumpulan sampah secara sadar,bertanggung jawab dengan bergotong royong dengan sesama warga sekolah

3.      Gali mimpi : mengali pertanyaan ke siswa untuk mengetahui pendapat,aspirasi murid,perasaan tentang sekolah impian yang bersih dan rapi bebas dari sampah.Contohnya : Seperti apa sekolah yang menyenangkan ? Bagaimana perasaan lingkungan kelas yang penuh dengan sampah ?

Hasil tahapan : Murid dan wali kelas memilah sampah untuk diproses yang bisa untuk di daur ulang,dibuang,maupun yang bisa dijual dan uang nya bisa untuk kas kelas.Murid sudah merealisasi impian dengan penambahan uang kas dari menjual kertas dan plastik ke pengepul sampah sekitar sekolah.Sampah daur ulang dapat digunakan untuk kompos tanaman.

4.      Jabarkan Rencana : membuat capaian yang nyata atau relistis misalkan langkah-langkah untuk menampung sampah,memilah sampah,menjual sampah,mendaur ulang sampah  supaya mendapatkan nilai tambah bagi murid di setiap kelas.

Hasil Tahapan : Murid berkolaboasi dengan warga sekolah telah meksanakan rencana aksi dari piket kelas maupun guru mengumpulkan sampah setiap pagi,sampah yang masih layak untuk diolah dikumpulkan di bank sampah sekolah tentu dengan pengurus pokja bank sampah dan dipilah sampah pastik,kertas,maupun logam.untuk sampah daun masuk ke pokja kompos dan proses pengolahan kompos.Sampah kertas seperti karton,koran bekas,dan plastik yang tidak didaur ulang masuk ke pengepul sampah dan mendapatkan uang sesuai dengan kelas yang menyetorkan sampah.

5.      Atur Eksekusi atau Deliver : Menyusun tim kerja,contoh : setiap kelas terdapat  kader sampah,kader lingkungan,pokja lingkungan

Hasil tahapan : Telah menentukan tim inti pokja sampah,adanya koordinasi penanggung jawab pelaksana program,adanya yang memonitor,mengevaluasi jalannya program pengolahan sampah supaya saling bekerja sama,berkolaborasi dalam program pengolahan sampah ini.

FEELING ATAU PERASAAN 

Perasaan yang dirasakan saat melaksanakan aksi nyata ini antara lain menyenangkan bisa menumbuhkembangkan kepemimpinan murid, mengelola sumber daya atau aset yang dimiliki sekolah,melatih murid melakukan perubahan-perubahan sesuai impian dan harapan murid tentang sekolah yang bersih dari sampah dan menciptakan sekolah yang menyenangkan.

FINDING ATAU PEMBELAJARAN

Berpikir berbasis aset atau asset based thinking memberikan pembelajaran baik guru maupun murid sebuah perubahan dari sampah yang tidak berguna menjadi barang yang berdaya guna.Guru sejatinya menuntun,memfasilitasi murid agar mendapatkan hal yang bermanfaat untuk bekal dalam hidup bermasyarakat.

 FUTURE ATAU PENERAPAN KE DEPAN

 Sebagai pemimpin pembelajaran haruslah bisa memetakan 7 aset atau sumber daya yang ada di sekolah dan mengelola aset atau sumber daya yang ada untuk kepentingan pembelajaran yang berdampak pada murid.Aksi nyata pengelolaan aset sekolah bisa saya terapkan secara konsisten dalam membuat  sebuah perubahan dari sekolah yang penuh sampah dan kotor menjadi sekolahyang bersih,rapi dan menyenagkan bagian dari budaya positif warga sekolah.Hal yang tidak kalah penting adalah mengubah pola pikir khususnya tenaga pendidik dari pemikiran lama yang cenderung negatif,berbasis kekurangan,dan kelemahan ke arah pola pikir positif yang berbasis pada kekuatan yang akan membuka harapan dan impian  bagi murid kita.

 

DOKUMENTASI AKSINYATA

 

















Sabtu, 14 Mei 2022

AKSI NYATA MODUL 3.1.A.10 PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

 

AKSI  NYATA MODUL 3.1.A.10

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

OLEH ETIK KRISTIYANTI

CGP ANGAKTAN 4 KABUPATEN OKU TIMUR

 

Portofolio aksi nyata yang disusun menggunakan refleksi 4P Yaitu Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran dan Perubahan.

 

PERISTIWA

                Pengambilan keputusan mejadi salah satu bagian tak terpisahkan dari keberadaan SD Negeri 08 Martapura. Bukan saja di lakukan olek Kepala Sekolah, melainkan juga warga sekolah lainnya. Termasuk salah satunya guru. Kenyataan menunjukkan bahwa  masih ada guru yang belum memahami perbedaan antara bujukan moral dan dilemma etika. Selain itu, masih banyak juga yang belum memahami tentang lankah-langkah yang tepat untuk mengambil keputusan. Tidak jarang  keputusan  yang diambil kurang tepat. Oleh karena itu, memerlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman warga sekolah terkait pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

                Berangkat dari kondisi tersebut, saya berusaha untuk meyusun langkah-langkah strategis.

Lankah-langkah tersebut tertuang dalam rancangan tindakan aksi nyata.

 

PERTAMA: KOORDINASI DENGAN KEPALA SEKOLAH

                Saya melakukan aksi nyata ini sebagai bentuk tugas dan tanggungjawab bawahan kepada atasan. Selain itu juga untuk medapatkan dukungan dalam pelaksanaannya.Hasil dari aksi nyata tersebut adalah adanya dukungan dari Kepala Sekolah untuk melaksanakan serangkaian aksi nyata pengambilan keputusan.



KEDUA: MENYUSUN RENCANA AKSI

                Bagaimanapun juga menyusun rencana yang baik adalah langkah awal yang baik dalam pelaksanaan kegiatan. Hal ini penting untuk mejamin kegiatan berjalan dengan baik. Hasil aksi nyata ini adalah tersusunnya rencana aksi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.



KETIGA : MELAKUKAN ANALISIS KASUS TERKINI DI SEKOLAH

                Langkah ini untuk menguatkan pemahaman tentang pengambilan keputusan . Hali ini mengingat pemahaman terkait masih membutuhkan penguatan secara langsung di sekolah. Hasil dari aksi nyata ini adalah tersusunnya analisis kasus yang terjadi di sekolah



KEEMPAT:  MENYUSUSN MATERI DISIMILASI TENTANG  PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

                Ini akan saya lakukan untuk menyiapkan bahan desimilasi. Materi yang saya buat merupakan materi modul 3.1. tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Saya akan melakukan beberapa perubahan terutama pada studi kasus dalam materi akan saya sesuaikan dengan kasus nyata yang ada di sekolah. Tujuannya adalah agar materi lebih dekat dan memberikan kemudahan kepada  teman sejawat untuk menjalani proses belajarnya. Hasil aksi ini adalah tersusunya materi desimilasi terkait pengambilan keputuasan sebagai pemimpin pembelajaran.

KELIMA: MELAKUKAN TRASFER PENGETAHUAN

                Melakukan transfer pengetahuan disini saya melakukannya dengan tatap muka,  yaitu dengan cara melakukan pertemuan dengan komunitas yang ada di sekolah yaitu untuk membahas materi tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Hasil aksi nyata ini adalah meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dan menerapkannya dalam pembelajaran di kelas maupun di sekolah.


 

KEENAM: MELAKUKAN EVALUASI

                Saya melakukan ini pada akhir kegiatan. Kegiatan ini berupa pertemuan dengan menggunakan lembar evaluasi. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana penerapan pengambilan keputusan  oleh teman sejawat, termasuk didalamnya kendala yang ada.

Hasil kegiatan ini yaitu terpetanya keberhasilan dan kendala yang ada. Hal ini juga sekaligus untuk mengukur efektivitas keberhasilan pengambilan keputusan.


 



PERASAAN

Setelah melakukan aksi nyata modul 3.1 tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran awalnya merasa akan mengalami kesulitan terutama dalam membuka  komunikasi awal terkait pelaksanaan kegiatan. Namun berkat kolaborasi aksi nyata pun bisa terlaksana dengan baik. Saat pelaksanaan lebih lega dan tenang. Hai ini karena sesuai rencana yaitu kolaborasi atau kerja sama dengan teman sejawat. Demikian halnya setelah aksi nyata dilaksanakan atau selesai perasaan bahagia dan sekaligus tertantang menjaga dan meningkatkan pemahaman diri dan teman sejawat terkait pengambilan keputusan.


PEMBELAJARAN

Banya pembelajaran baru dalam perubahan yang telah dilakukan. Pembelajaran tersebut terkait dengan diri sendiri maupun orang lain, salah satu pembelajaran baik bagi diri sendiri yaitu bahwa awal yang baik bagi sebuah perubahan adalah kolaborasi. Dari kolaborasi ada pembelajaran tentang penyamaan persepsi dalam menyusun langkah-langkah perubahan. Pembelajaran baik lainnya yaitu terkait kendala dari rencana yang telah disusun . Kendala ada yang membuat rencana berubah, oleh karena itu penting adanya persiapan strategi alternative dalam implementasi aksi nyata pembelajarab dari orang lain terutama terkait dengan pentingnya dukungan dari teman sejawat.

 

PERUBAHAN

Perubahan nyata dari dalam diri yaitu adanya tekan menguatkan kolaborasi sebagai bentuk dukungan dari dan tehadapa rekan sejawat. Hal ini penting kaitannya dengan implementasi aksi perubahan kedepannya. Selain itu saya optimis untuk meningkatkan terutama terkait kompetensi diri dalam pengambilan keputusan. Hal ini akan berpengaruh nyata terhadap keputusan yang diambil kedepannya terkait peran sebagai pemimpin pembelajaran. Perubahan lainnya yaitu semakin meningkatnya komitmen diri untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik untuk sekolah.

 

Demikian portofolio aksi nyata modul 3.1 tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Harapan saya ada hal-hal kecil yang dilakukan dapat membawa perubahan yang lebih baik kedepannya.

 

 

Kamis, 21 April 2022

 


MODUL 3.1.A.9

KONEKSI ANTAR MATERI

PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMIMPIN

 

 


Oleh : ETIK KRISTIYANTI, S.Pd

SD NEGERI 08 MARTAPURA

 

CALON GURU PENGGERAK  ANGKATAN 4

KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR

SUMATERA SELATAN

 

 

 

 

MODUL 3.1.A.9 KONEKSI  ANTAR  MATERI

1.      Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Filosofi Pratap Triloka khususnya ing ngarso sung tuladha memberikan pengaruh yang besar dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. KHD berpandangan bahwa sebagai seorang guru, itu harus memberikan tauladan atau contoh praktik baik kepada murid. Dalam setiap pengambilan keputusan, seorang guru harus memberikan karsa atau usaha keras sebagai wujud filosofi Pratap Triloka ing madyo mangun karsa dan pada akhirnya guru membantu murid untuk dapat menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Guru hanya sebagai pamong yang mengarahkan murid menuju kebahagiaan. Hal ini sesuai dengan filosofi Pratap Triloka Tut Wuri Handayani. 

2.      Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Setiap guru seyogyanya memiliki nilai-nilai positif yang sudah tertanam dalam dirinya. Nilai-nilai positif yang mampu mempengaruhi dirinya untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid. Nilai-nilai yang akan membimbing dan mendorong pendidik untuk mengambil keputusan yang tepat dan benar.  Nilai-nilai positif tersebut seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid.  Nilai-nilai tersebut merupakan prinsip yang dipegang teguh ketika kita berada dalam posisi yang menuntut kita untuk mengambil keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada situasi dilema etika (benar vs benar) atau berada dalam dua pilihan antara benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita berpikir secara seksama untuk mengambil keputusan yang benar. Keputusan tepat yang diambil tersebut merupakan buah dari nilai-nilai positif yang dipegang teguh dan dijalankan oleh kita. Nilai-nilai positif akan mengarahkan kita mengambil keputusan dengan resiko yang sekecil-kecilnya. Keputusan yang mampu memunculkan kepentingan dan keberpihakan pada peserta didik.  Nilai-nilai positif mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif serta berpihak pada murid adalah manifestasi dari pengimplementasian kompetensi social emosional kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran social dan keterampilan berinteraksi social dalam mengambil keputusan secara berkesadaran penuh untuk meminimalisir kesalahan dan konsekuensi yang akan terjadi. 

3.      Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Coaching adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.

Pembimbingan yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan fasilitator telah membantu saya berlatih mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil. Apakah keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid, sudah sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal dan apakah keputusan yang saya ambil tersebut akan dapat saya pertanggung jawabkan.

TIRTA merupakan model coaching yang dikembangkan dengan semangat merdeka belajar. Model TIRTA menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan coaching, yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. TIRTA adalah satu model coaching yang diperkenalkan dalam Program Pendidikan Guru Penggerak saat ini. TIRTA dikembangkan dari Model GROW. GROW adalah akronim dari Goal, Reality, Options dan Will.

Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,

Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,

Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.

Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.TIRTA akronim dari :

: Tujuan

: Identifikasi

: Rencana aksi

TA: Tanggung jawab 

4.      Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Sebagai seorang pendidik, kita harus mampu menjembatani perbedaan minat dan gaya belajar murid di kelas sehingga dalam proses pembelajaran murid mendapatkan pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai profil belajar mereka masing-masing. Untuk itu diperlukan pengambilan keputusan yang tepat agar seluruh kepentingan murid dapat terakomodir dengan baik. Kompetensi sosial dan emosional diperlukan agar guru dapat fokus memberikan pembelajaran dan dapat mengambil keputusan dengan tepat dan bijak sehingga dapat mewujudkan merdeka belajar di kelas maupun di sekolah.

5.      Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Keberpihakan dan mengutamakan kepentingan murid dapat tercipta dari tangan pendidik yang mampu membuat solusi tepat dari setiap permasalahan yang terjadi. Pendidik yang mampu melihat permasalahan dari berbagai kaca mata dan pendidik yang dengan tepat mampu membedakan apakah permasalahan yang dihadapi termasuk dilema etika ataukah bujukan moral.

Seorang pendidik ketika dihadapkan dengan kasus-kasus yang fokus terhadap masalah moral dan etika, baik secara sadar atau pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang dianutnya. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan. Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung hanya benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan pihak.Kita tahu bahwa Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak adalah reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada anak didik. Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak khususnya peserta didik.

6.      Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat tekait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya dapat dicapai jika dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dapat dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat , maka hal tersebut akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

7.      Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Jawaban saya yaitu iya, kesulitan muncul karena masalah perubahan paradigma dan budaya sekolah yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Diantaranya adalah sistem yang kadang jika memaksa guru untuk memilih pilihan yang salah atau kurang tepat dan tidak berpihak kepada murid. Yang kedua tidak semua warga sekolah berkomitmen tinggi untuk menjalankan keputusan Bersama. Yang ketiga keputusan yang diambil kadang kala tanpa sepenuhnya melibatkan guru sehingga muncul banyak kendala-kendala dalam proses pelaksanaan pengambilan keputusan.

8.      Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Menurut pendapat saya, semua tergantung kepada keputusan seperti apa yang diambil, apabila keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid dalam hal ini tentang metode yang digunakan oleh guru, media dan sistem penilaian yang dilakukan yang sudah sesuai dengan kebutuhan murid, maka hal ini akan dapat memerdekakan murid dalam belajar dan pada akhirnya murid dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya. Namun sebaliknya apabila keputusan tersebut tidak berpihak kepada murid, dalam hal metode, media, penilaian dan lain sebagainya maka kemerdekaan belajar murid hanya sebuah omong kosong belaka dan tentunya murid tidak akan dapat berkembang sesuai potensi dan kondratnya.

9.      Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid, maka dapat dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi oang-orang yang merdeka, kreatif , inovatif dalam mengambil keputusan yang menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya.

Keputusan yang diambil oleh seorang guru akan menjadi ibarat pisau yang disatu sisi apabila digunakan dengan baik akan membawa kesuksesan dalam kehidupan murid di masa yang akan dating. Demikian sebaliknya apabila kebutuhan tersebut tidak diambil dengan bijaksana maka bisa jadi berdampak sangat buruk bagi masa depan murid-murid. Keputusan yang berpihak kepada murid haruslah melalui pertimbangan yang sangat akurat dimana dilakukan terlebih dahulu pemetaan terhadap minat belajar, profil belajar dan kesiapan belajar murid untuk kemudian dilakukan pembelajaran berdiferensiasi yaitu melakukan diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk.

 

10.  Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan yang didapat dari pembelajaran modul ini yang dikaitkan dengan modul-modul sebelumnya adalah :

Pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran.

Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being).

Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila.

Dalam perjalanannya menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar.

Demikian koneksi antar materi modul 3.1. Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran, semoga bermanfaat.

Minggu, 10 April 2022

AKSI NYATA 1.3 VISI GURU PENGGERAK

 

LAPORAN HASIL AKSI NYATA

MODUL 1.3

 

 

PGP – ANGKATAN 4 KAB.OKU TIMUR

ETIK KRISTIYANTI, S.Pd

GURU SD NEGERI 08 MARTAPURA

 

Visi Guru Penggerak “Mewujudkan SDM yang berimtaq berkarakter, cerdas untuk menghadapi tuntutan zaman

Latar Belakang
Pendidikan Guru Penggerak telah memberikan perubahan cara pandang atau paradigma mengenai siapa guru dan murid, dan apa yang diimpikan seorang guru penggerak akan muridnya di masa mendatang. Perubahan visi ini juga harus dilakukan secara nyata dan membutuhkan pendekatan khusus untuk pelaksanaannya. Salah satu pendekatan yang baik adalah menggunakan Appreciative Inquiry (BAGJA).  BAGJA berfokus pada mengapresiasi apa yang sudah baik, segala kekuatan yang sudah ada di sekitar guru dan dapat dimanfaatkan dan dikembangkan ke depannya. Perlu dilakukan sebuah pemetaan akan semua hal yang berhasil dilakukan sebelumnya serta kekuatan apa saja yang dapat dimanfaatkan.

Namun, perlu diketahui bahwa pada saat kami sedang mempelajari modul 1.3 ini, sekolah tempat saya mengajar sudah dalam masa liburan, sehingga aksi nyata ini akan saya kerjakan di semester baru mendatang.

 

Visi Guru Penggerak

Setelah melakukan perenungan secara mendalam akan apa yang saya impikan bagi murid saya di masa depan, maka saya tiba pada sebuah visi yang berbunyi demikian:

 Mewujudkan SDM yang berimtaq berkarakter, cerdas untuk menghadapi tuntutan zaman"

Visi ini akan menjadi dasar bagi saya menentukan aksi nyata yang akan saya kerjakan bagi murid-murid saya di masa mendatang.

Tujuan Aksi Nyata

 

Dalam aksi nyata ini, tujuan utama saya adalah untuk mewujudkan murid-murid berakhlak, karakter, cerdas, analitis serta menjunjung tinggi budaya lokal Indonesia. Tentunya untuk mencapai seluruh visi secara menyeluruh pasti membutuhkan banyak usaha dan waktu. Sehingga perlu untuk memiliki fokus kecil yang dapat dikerjakan terlebih dahulu.

Murid-murid datang dari berbagai latar belakang budaya dan pengetahuan serta memiliki kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang berbeda. Sering kali guru sangat sibuk untuk memperhatikan murid-murid yang sangat ‘terlihat’ dan cenderung mengabaikan murid-murid yang biasa saja karena mereka sudah ‘berjalan’ dengan sendirinya tanpa banyak campur tangan guru. Saya memilih untuk memperhatikan semua murid, bukan hanya yang sangat pintar saja, atau hanya yang bermasalah saja, namun juga mencoba mendalami dan mengenali potensi setiap murid saya.

Kedua, hal yang sangat saya ingin kembangkan adalah menciptakan pembelajaran yang menarik dan melibatkan murid serta pengembangan diri pribadi saya agar dapat mencapainya. Di masa ini, murid-murid kita sudah sangat terekspos dengan teknologi yang sangat tinggi, terutama di kota besar seperti Surabaya. Sehingga bila guru tidak merangkul teknologi dalam pembelajarannya, maka besar kemungkinan murid akan sulit merasa tertarik dan ingin terlibat secara aktif dalam pelajaran. Sehingga sangat penting bagi guru untuk mengembangkan segala pembelajaran yang menarik agar anak tetap melakukan pembelajaran yang efektif.

 

Deskripsi Rencana Aksi Nyata

 

Pertama, untuk rencana aksi nyata ini, saya berencana untuk melakukan pendalaman karakter mengenai semua anak yang akan masuk di kelas saya. Adapun cara yang akan saya tempuh adalah dengan berbincang (wawancara) guruguru yang telah mengajar para murid-murid tersebut sebelumnya. Hal yang ingin ditemukan adalah segala sifat, karakter, kebiasaan dan kekurangan murid-murid tersebut seperti yang diketahui oleh para guru yang bersangkuta. Data-data tersebut akan dipakai untuk menyusun aksi nyata bagaimana untuk memperkuat sifat baik dan keaktifan sang murid. Saya akan juga memiliki logbook (anecdotal record) yang berisi mengenai hal-hal yang terjadi dalam setiap harinya untuk masing-masing anak. Dalam seminggu, masing-masing anak harus minimal diinput sekali mengenai keaktifan dalam kelas, pencapaian, kelakuan dan perkataan baik dan sebagainya. Setiap pencapaian positif akan diberikan sebuah penghargaan yang dapat berupa pujian, konfirmasi bahkan hadiah. Ini bertujuan agar semua murid dapat merasa dihargai atas segala pencapaian yang sudah dikerjakan dan semakin semangat untuk lebih baik lagi.

Kedua, selama masa liburan ini saya sedang mengoleksi berbagai macam metode, permainan, aplikasi digital (terutama yang melibatkan teknologi internet) yang bisa saya gunakan dalam pembelajaran di semester depan. Saya juga sedang merancang RPP yang melibatkan murid sehingga murid bukan hanya secara pasif mengikuti pembelajaran dan guru yang aktif, melainkan sebaliknya. Guru hanya menjadi fasilitator pembelajaran yang mengarahkan anak menuju sebuah pemahaman konsep dsb, namun anak yang secara aktif terlibat dalam semua proses pembelajaran sehingga mereka menemukan sendiri pemahaman konsep tersebut melalui semua kegiatan yang dikerjakan di dalam kelas. Beberapa aplikasi yang telah saya gunakan sebelumnya meliputi Kahoot, Quizziz, Bamboozle, FlipGrid, NearPod, Padlet, dan lainnya.

Hasil Aksi Nyata

Saat ini hasilnya belum dapat saya sampaikan di sini. Besar harapan saya bahwa semua usaha tersebut dapat membuat murid-murid semakin semangat belajar dan merasa tergerak untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Perasaan dihargai akan membuat mereka semakin percaya diri. Percaya diri akan membuat mereka tertantang untuk mencoba sesuatu yang baru dan berbeda, sehingga setiap anak akan mendapatkan manfaat dari program ini. 

 

Tahapan Aksi Nyata

 

A. Tahapan Perencanaan

Menyusun Rencana dan komunikasi dengan Kepala Sekolah, berkolaborasi dan mengoptimalkan seluruh kekuatan untuk mencapai visi


 B. Tahapan Pelaksanaan

1. Mewujudkan siswa yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

- Derdoa sebelum dan sesudak pembelajaran

- Kegiatan Literasi

- Melaksanakan upacara bendera

- senyum, sapa, salam, sopan dan santun

- Menjaga Kebersihan lingkungan

 





2. Mewujudkan siswa yang berkarakter

- memberikan teladan bagi siswa

-Mengajarkan  ilai-nilai moral setiap pembelajaran

- mengajarkan kejujuran dan terbuka pada kesalahan

- memberikan kesempatan kepada siswa belajar menjadi pemimpin

 

     


3. Mewujudkan murid yang cerdas


Siswa yang sempurna perkembangan akal budinya untuk berfikir, mengerti dan memaknai baik itu intelektual maupun emosional. Di SDN 08 Martapura boleh memilih ekstrakurikulernya ada pramuka (wajib), Olah raga seni musik dan tari.

c. Tahapan Refleksi

Masih banyak kekurangan dalam aksi nyata ini. Visi tidak mungkin terwujud hanya dengan sekali aksi nyata, akan tetapi perlu aksi yang berkelanjutan, konsisten dan tanggung jawab sereta keterlibatan seluruh elemen sekolah sebagai sumber kekuatan.

 

AKSI NYATA MODUL 3.3 PROGRAM PENGELOLAAN YANG BERDAMPAK PADA MURID

  Aksi Nyata Modul 3.3.a.10 Program Pengelolaan Yang Berdampak Pada Murid PROGRAM “SABES” SEKOLAH ASRI BEBAS SAMPAH   DI SD NEGERI 08 ...